Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Menambah Tekanan Ekonomi Kelas Menengah

JAKARTA, WARTANUSANTARA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi Pertamax menjadi perhatian dalam pembahasan mengenai kondisi ekonomi kelas menengah. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga, mendorong pergeseran konsumsi BBM, serta memperbesar tekanan terhadap kelompok masyarakat yang berada di ambang kerentanan ekonomi.

Pembahasan itu mengemuka dalam program On Point with Adisty #78 yang ditayangkan KompasTV, dengan menghadirkan Edi Suparno, Wakil Ketua MPR RI, dan Media Askar, Direktur Kebijakan Publik CELIOS. Keduanya membahas dampak kenaikan harga Pertamax, kebijakan fiskal, serta tantangan perlindungan daya beli masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, kenaikan harga Pertamax dari kisaran Rp10.000-an menjadi Rp16.000-an per liter disoroti karena berpotensi menambah biaya transportasi masyarakat. Pengguna kendaraan pribadi, termasuk pekerja yang mengandalkan kendaraan untuk aktivitas ekonomi, dapat menghadapi peningkatan pengeluaran bulanan.

Media Askar menekankan pentingnya menghitung dampak kenaikan harga BBM terhadap kelompok kelas menengah. Menurut perspektif yang disampaikannya, persoalan kenaikan harga tidak hanya berkaitan dengan status BBM sebagai produk non-subsidi, tetapi juga dampaknya terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Askar membandingkan situasi tersebut dengan penanganan ekonomi pada masa pandemi COVID-19. Ia menyoroti perlunya perhitungan kompensasi dan dampak fiskal ketika terjadi kenaikan harga BBM.

Ia juga membahas kemungkinan pengurangan subsidi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan pengalihan anggaran kepada bantuan sosial. Namun, menurutnya, kebijakan tersebut tetap perlu mempertimbangkan ketepatan sasaran dan kondisi riil masyarakat agar kelompok yang terdampak tidak terabaikan.

Tekanan terhadap kelas menengah turut dikaitkan dengan risiko terhimpitnya pendapatan (squeezed middle-income class). Kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian masyarakat bergeser menuju kelompok rentan miskin apabila kenaikan biaya hidup tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Askar menilai tekanan berkepanjangan terhadap kelas menengah dapat berdampak terhadap perekonomian dalam jangka panjang. Kelas menengah memiliki peran dalam menjaga aktivitas konsumsi dan mendukung terciptanya lapangan kerja.

Potensi Pergeseran Konsumsi Pertalite

Kenaikan harga Pertamax juga dibahas dari sisi dampaknya terhadap pasar BBM. Selisih harga yang semakin besar berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite.

Pergeseran permintaan tersebut perlu diantisipasi melalui kesiapan pasokan dan distribusi. Dalam diskusi, pentingnya simulasi dampak pergeseran konsumsi secara matang menjadi salah satu perhatian terhadap kebijakan pemerintah.

MBG dan Kebijakan Pemerintah

Selain isu BBM, pembahasan turut menyinggung program strategis nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Edi Suparno menyampaikan bahwa program tersebut dinilai bermanfaat oleh banyak masyarakat di daerah pemilihannya.

Namun, ia juga mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih memiliki sejumlah kekurangan yang perlu diperbaiki. Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap pelaksanaan program agar tujuan kebijakan dapat tercapai secara optimal.

Kenaikan harga Pertamax dan pelaksanaan program pemerintah pada akhirnya menempatkan persoalan pengelolaan anggaran, perlindungan daya beli, dan ketepatan sasaran kebijakan sebagai bagian dari pembahasan ekonomi yang perlu mendapat perhatian.

(Achmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top